Memperingati Peristiwa Karbala di 10 Muharam, Hari Asyura (Artikel laman lain)

karbala

 Setiap peristiwa besar dan penting, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar dan penting pula, sudah pasti mengandung pelajaran-pelajaran berharga yang dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai contoh teladan bagi kehidupan umat dan bangsa lain. Salah satu peristiwa besar dan penting ini ialah peristiwa yang selalu kita peringati setiap kali datang bulan Muharram, kerana peristiwa yang kita peringati itu terjadi pada bulan suci ini. Pada kesempatan kali ini, kita ingin meneliti dan mempelajari secara ringkas berbagai hal berkenaan tragedi bulan Muharram yang dikenal dengan tragedi asyura ini

Tak diragukan bahwa kebangkitan asyura, selain memiliki unsur keagamaan, individual dan sosial, juga memiliki ciri-ciri khusus yang bisa dikatakan tidak terdapat dalam peristiwa-peristiwa lain. Di antara ciri-ciri tersebut ialah:

1–Kristalisasi haq dan hakekat dalam bentuknya yang agung dan abadi

Artinya, kebangkitan Imam Husein beserta sejumlah keluarga dan pengikut setia beliau ini membuktikan bahwa kebenaran dan hakekat masih hidup dan siap bertahan dengan segala bentuk pengorbanannya di hadapan kebatilan dan kezaliman.

2–Dalam tragedi asyura di Padang Karbala ini, kezaliman yang sangat keji dan kesesatan yang sedemikian parahnya, dapat disaksikan dengan jelas dan gamblang.

3–Peristiwa Karbala, menjadi simbol teriakan kaum tertindas di sepanjang zaman.

4–Front Kebenaran dan Front Kebatilan menemukan bentuknya yang sangat utuh dan jelas dalam tragedi ini sehingga setiap orang dapat membedakan dengan mudah, mana kebenaran dan mana kebatilan.

5–Nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran dari tragedi asyura tidak terbatas pada masa dan tempat tertentu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal

Lalu apakah kira-kira hal-hal yang mendorong terjadinya peristiwa sedemikian tragis yang menggoreskan lembaran hitam dalam sejarah Islam ini? Penjelasan berikut ini akan dapat memaparkan faktor-faktor terjadinya tragedi asyura ini:

Pertama, terpilih dan naiknya orang-orang yang tidak saleh sebagai pemimpin. Sejak Ahlul Bait Nabi a.s. tersingkir dari hak mereka sebagai penerus kepemimpinan Rasul Allah SAWW terhadap umat Islam, maka yang muncul kemudian ialah para pemimpin yang tidak saleh, yang dapat disaksikan dengan jelas sejak munculnya Muawiyah bin Abi Sufyan. Ialah yang kemudian menjadikan pemerintahan Islam sebagai kerajaan yang kekuasaannya diwariskan secara turun temurun. Di dalam sistem kerajaan, seorang putra raja otomatis akan menggantikan ayahnya, meskipun pada kenyataannya ia tidak memiliki kelayakan sebagai pemimpin. Untuk itulah seringkali muncul pemimpin zalim.

Sejarah manusia menunjukkan secara jelas bahwa pemimpin zalim hanya berpikir untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun, termasuk dengan cara mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya dan menguasainya sendirian. Di antara cara mempertahankan kekuasaan pemimpin zalim ialah dengan menyebarkan nilai-nilai kezaliman di kalangan para pejabat pemerintahannya bahkan di tengah masyarakat luas. Untuk itulah pemimpin zalim tidak pernah menyukai orang-orang saleh, bahkan menganggapnya sebagai sumber ancaman terhadap kekuasaannya.

Sejarah juga membuktikan bahwa Muawiyah dan anaknya Yazid, serta mayoritas para penguasa Bani Umayyah, yang disusul kemudian dengan para pemimpin Bani Abbasiyah, adalah jenis pemimpin zalim seperti itu. Akibatnya sudah barang tentu menyebarnya dekadensi moral di sebagian besar lapisan masyarakat, terutama di kalangan para pejabat negara. Ketidakadilan, kesemena-menaan, kejahatan dan ketidakamanan menyebar ke mana-mana. Di antara yang paling parah ialah munculnya diskriminasi rasial di kalangan masyarakat muslim, dan meluasnya ideologi-ideologi sesat yang merusak akidah dan keyakinan Islam. Semua itu benar-benar merupakan ancaman serius bagi ajaran Islam yang murni.

Melihat kondisi buruk itu, yang mencapai puncaknya di zaman Yazid bin Muawiyah, maka sejumlah tokoh Kufah, Irak, yang dulu merupakan pengikut Imam Ali a.s. dan Imam Hasan a.s., menulis surat kepada Imam Husein a.s. agar datang ke Kufah untuk memimpin masyarakat Kufah memerangi Yazid. Imam Husein a.s. yang merasa terpanggil untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, memenuhi panggilan masyarakat Kufah ini dan berangkat menuju ke kota bekas pusat pemerintahan ayahanda beliau itu.

Akan tetapi, pihak penguasa, yaitu Yazid yang mencium gerak-gerik penduduk Kufah ini, segera mengirim pasukan militer ke kota ini dan membasmi gerakan tersebut dengan menangkapi, memenjarakan dan membunuhi para tokohnya. Dengan demikian, jadilah Imam Husein a.s. kehilangan pendukung besarnya. Akan tetapi, beliau tetap berniat datang ke Kufah. Yazid yang mengetahui bahwa Imam Husein a.s. tetap bergerak menuju ke Kufah, mengirim bala tentara lengkap untuk mencegah kedatangan beliau ke kota ini.

Terhalang untuk masuk ke kota Kufah, akhirnya rombongan Imam Husein a.s. digiring hingga tiba di sebuah padang pasir bernama Karbala. Ketika datang perintah dari Yazid di Syam, agar Imam Husein beserta rombongannya dibantai, maka terjadilah pertempuran yang sangat tak seimbang, yang kemudian dikenal di seluruh dunia dan di sepanjang sejarah sebagai tragedi Karbala.

Berikut ini adalah uraian sekilas hasil-hasil yang dicapai oleh revolusi Imam Husein a.s. ini. Di antara yang dapat disebutkan sebagai hasil-hasil kebangkitan Imam Husein a.s. ialah:

1-Terbongkarnya kedok yang menutupi kejahiliyahan dan kezaliman pemerintahan para penguasa pada zaman beliau, dan tereksposnya wajah buruk pemerintahan tiran mereka kepada seluruh masyarakat Islam.

2-Kebangkitan semangat keagamaan dalam menentang para penguasa tiran dan diktator.

3-Revivalisasi ajaran-ajaran Islam yang murni.

4-Kebangkitan kesadaran sejarah dan keteladanan kebangkitan Imam Husein dalam menentang kezaliman bagi umat manusia di sepanjang zaman.

5-Penyadaran umat muslimin akan hak-hak mereka pada para penguasa, serta kewajiban-kewajiban para penguasa terhadap mereka.

6-Dihidupkannya kembali budaya amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat Islam.

7-Dihidupakannya kembali sunnah Nabi di kalangan kaum muslimin.

8- Bangkitnya perhatian dan kecintaan rakyat kepada Ahlul Bait Nabi dan keturunan mereka.

9-Penjalinan hubungan emosional dan idiologi antara ummat manusia dan kebangkitan Imam Husein a.s.

Jika kita pelajari dengan baik situasi dan kondisi yang melingkupi kehidupan muslimin di tahun-tahun kebangkitan Imam Husein ini, atau dengan kata lain, jika kita mengetahui dan mengenal siapa itu Muawiyah dan siapa Yazid, anaknya yang kemudian mewarisi kekuasaannya, demikian pula jika kita kenal dengan baik siapa Imam Husein, keluarga dekat dan para pengikut setia yang menyertai beliau ke Karbala, maka akan kita ketahui pula dengan baik, ciri-ciri, faktor, tujuan dan hasil-hasil perjuangan Imam Husein a.s. yang berakhir dengan sangat tragis di Padang Karbala.

Untuk itu mari kita mempelajari sejarah peristiwa Karbala ini dengan sebaik-baiknya. Sisihkan sedikit waktu untuk mempelajari kehidupan Imam Husein dan perjuangan beliau ini. Waktu yang berjalan detik demi detik di Karbala, semuanya memberikan pesan dan petunjuk. Tiap wajah di Karbala mengekspresikan suatu pesan. Di Karbala, manusia terbagi dua kelompok dan masing-masing memainkan perannya. Yang satu memerankan kebaikan dan keindahan, sedangkan yang lain memerankan kejahatan dan keburukan. Masing-masing telah memainkan peran mereka dengan sangat sempurna. Tragedi Karbala adalah cermin bagi semua manusia. Setiap orang dapat menyaksikan gambaran dirinya di Karbala

Pemisahan antara hak dan batil, antara iman dan kufur, antara keindahan dan keburukan, terulang kembali di Karbala dengan bentuknya yang paling gamblang dan spektakuler. Inilah di antara tujuan besar yang hendak dicapai dengan pengorbanan cucu-cucu Rasul SAWW dan sejumlah pengikut setia mereka. Imam Husein menyaksikan bahwa ajaran suci Islam berada dalam ancaman kehancuran oleh ulah para pemegang kekuasaan duniawi yang serakah. Segala usaha telah dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil. Di satu sisi, beliau menyaksikan kezaliman para penguasa yang semakin merajalela. Sementara dari sisi lain umat Islam semakin tenggelam dalam tidur lelap yang melenakan.

Untuk itu diperlukan sebuah ledakan besar yang akan mencabut akar-akar kezaliman para penguasa tiran, dan membuyarkan tidur lelap yang melenakan mata hati umat muslimin. Kepada para penguasa zalim harus dikatakan bahwa kekuatan kebenaran masih belum lenyap; dan kepada rakyat harus dikatakan bahwa kekuatan penuntut keadilan masih tegak dan harus tetap ditegakkan. Pengorbanan Imam Husein a.s. beserta keluarga dan pengikut setia beliau telah berhasil mencapai tujuan tersebut. Hingga kini, kita masih dapat menyaksikan kebenaran dan keadilan dan tegaknya ajaran-ajaran Islam yang murni. Disadari atau tidak, semua itu adalah berkat pengorbanan dan perjuangan yang dipimpin oleh Imam Husein yang berakhir di Padang Karbala.

Hasil Nukilan :
Fauzul Na'im Ishak
Pemilik Raudhatunnaim.Com
md@fauzulnaim.com

Comments

  1. assalamu’alaikum

  2. berbaur syiah jer nie…kalau kamu pengikut ahli sunnah wal jamaah…be ware dgn artikel yg di ambil…if u’re syiah…think about it…

  3. ikhsan says:

    seorang muslim haruslah bisa bersikap adil termasuk dalam menulis.
    tulisan anda sangat berbau syi’ah dan menyudutkan mu’awiyah. bila anda mau jujur banyak sumbangan mu’awiyah terhadap kemajuan islam, tetapi anda hanya melihat keburukannya saja.
    saya kira anda sudah tahu bagaimana sikap seorang muslim bila mengetahui keburukan seseorang muslim lainnya.

    “Pertama, terpilih dan naiknya orang-orang yang tidak saleh sebagai pemimpin. Sejak Ahlul Bait Nabi a.s. tersingkir dari hak mereka sebagai penerus kepemimpinan Rasul Allah SAWW terhadap umat Islam, maka yang muncul kemudian ialah para pemimpin yang tidak saleh”

    kalimat anda diatas sangat sombong dan menghina khulafaurrasyidin.

    kesimpulan: tulisan anda sangat tidak berguna untuk persatuan umat, namun sangat berguna untuk kepentingan nafsu dan golongan anda sendiri.

  4. nailofar says:

    assalamualaikum benar kata amru..artikel ni berbaur fahaman syiah..sayyidina muawiyah adalah sahabat nabi..dan baginda s.a.w mempercayai beliau.Buktinya beliau dilantik sebagai salah seorang penulis wahyu..Rasulullah juga pernah berdoa :“ya Allah ajarkanlah dia Kitab dan hisab dan peliharalah dia daripada azab”. Sebenarnya hanya segelintir sahaja daripada kalangan sahabat yang didoakan secara khusus oleh Rasulullah berkenaan hal itu.Pernah beliau dicela di hadapan Saiyidina Umar, maka Saiyidina Umar pun berkata, “Janganlah kamu mencela anak muda Quraish ini. Dia adalah seorang yang boleh ketawa ketika marah (terlalu penyantun). Tidak boleh diambil apa yang ada padanya melainkan dengan persetujuannya dan tidak boleh diambil apa yang ada di atas kepalanya melainkan dari bawah dua tapak kakinya.”Namun sejarah ini telah diselewengkan melalui pakatan jahat diantara perancang-perancang yahudi dan majusi. Mereka menyebarkan propaganda yang memburukkan khalifah umat Islam pada masa itu. Kemudian mereka membunuh Amirul Mukminin Saiyidina Uthman.Malah Saidina Hussain sendiri telah menyalahkan penduduk Kufah di atas peperangan berat sebelah yang terpaksa beliau hadapi di Karbala. Telah diriwayatkan bahawa ucapan beliau yang terakhir sebelum terbunuh di Karbala adalah:Ya Allah, berilah putusan di antara kami dan di antara orang-orang yang mengajak kami untuk menolong kami, namun ternyata mereka membunuh kami. – Rujuk buku Pengkhianatan Pengkhiantan Syiah Dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam karya Dr. Imad Ali Abdus Sami’, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2006, ms. 35-36..waalhu’alam..

  5. nailofar says:

    maaf kesilapan ejaan..wallahu’alam..

  6. sitanah says:

    Salam … satu penulisan yg baik. tak timbul langsung sunni syiah, sekadar mengupas satu tragedi yg sudah pun terjadi.

  7. hussain says:

    penulisan ini nampak seperti dicopy saja dari mana-mana tulisan lain,banyak ejaan dalam tulisan ni mengikut ejaan bahasa indonesia..penulis perlu mengkaji terlebih dahulu tentang artikel ini sebelum dimuatkan dalam web beliau.

Speak Your Mind

*